Kamis, 29 Mei 2014

puisi



Madu senyummu
bagaikan terbitnya sang rembulan madu senyummu
dalam malam sunyi
membuat bait-bait cinta kini terpaku memujamu,
kedipan mata terasa terganggu
ketika kulihat madu senyummu begitu menawan
merayapkan kerinduan
pada kebisuan suasana malam ,
butir-butir harapan bak fajar
mengumbar binar terang di bukit2 jiwaku
yang gersang akan kedamayan,
mimpi-mimpipun kini terang berbinar
namun kucoba kubendung dalam lara duka
yang masih membekas dalam hatiku yang hampa
tanpa keabadian cinta yang mendiami raga.

Bak rembulan
Gelap hati tersungkuh lara
pada nafas yang tak lagi lega,
redup sunyi rembulan terhimpit tangkai mawar
meninggalkan waktu saat memuja.
Kau bak rembulan yang menyimpuhkan jiwa
Dengan sejuta pesona
Membantai semangat raga yang menapakkan kaki
Pada keagungan waktu.
begitu berat hati menerima perjuangan yang terhenti
bagaikan jasat kehilangan sang ibu
hingga ia hanya menjeriiiiit tercekam ketakutan
melihat arah-arah perjuangan
takkuasa ia tempuh dalam kesendirian.


Aggunnya wajahmu
Meninggalkan sunyi dan duka
Terbenamnya wajahmu yang anggun
Pada senampan riang.
Menuturkan kerinduan pada celoteh jiwa
Bergelimpang lara,
Anggunnya wajahmu...........!!!
Merekak kenangan dalam kepergian tanpa pesan,
Lewat kata atau tulisan
Namun jiwa tetap merindu
Dan angan takkuasa lupa walau janji ia lepaskan.
Mengapa jiwaku................???
Memuja kecantikan yang terkepal
Dan takkan lepas akan kerisawan
Yang terikat kesetiaan.

Kau pelipur lara
Langkah terhenti dari kegersangan
Mendengar bait-bait asa dari jiwa yang sunyi
Menancapkan tongkat harapan
Menembus jantung tanpa darah.
Riang yang tenggelam
Mulai mengapung mendayung senyumnya.
Jiwa yang terbaring lemah akan keraguan
Kini bangkit menyambut pagi, menyapa nuansa baru.
Kehadiranmu......!!!
Pada bentangan jiwaku
Merubah kemarau menjadi semi,
Merubah sunyi menjadi canda tawa
Ketika kau jenguk jiwa denga senampan cinta
Dalam juangmu.

Terbawa dalam mimpi
erbias sunyi dalam kegamangan jiwa
menyukarkan lelap malam,
suara-suara merdu taklagi akrap kembali
menghibur jiwa ketika pekat malam
kutempuh dengan renung.
Kunanti separuh malam membelai jiwa
Hingga aku lelap di pangkuannya
Walau kurasa hampa.
Betapa pilunya hatiku
Ketika aku terjaga dari tidur pulasku
Membawa isak tangis tanpa sandaran
Sedang masih terasa sesaat aku berbaring.
Mengapa,,,,,,,,,?
Kauhadir dalam mimpi berselimut rindu,
Sedang kebersamaan telah berhenti
Hanya mampu kukenang dalam bentuk kesejatian.
Seindah pelangi
Dalam hamparan waktu yang terus berlaju
Dengan masa tuanya,
Cahaya mentari terasa reduk dalam amarah cakrawala
Yang terus menangis dengan suara petirnya,
Akupun tersipu kaku,,,,,,!
Meredup sedih mengadukan duka
Pada maha diatas maha segalanya,
Hingga dibalik ketakutan yang menjelma
Kulihat jiwa seindah pelangi
Membangunkan benih cinta yang layu
Dalam kehancuran kalbu.
Kuharap bukan hanya mata yang mampu melihat
Namun separuh jiwa ragaku berdo’a
Agar ia jatuh dalam genggamanku yang kosong.

Kau penyejuk jiwa
Sekian lama kutelusuri jalan hidupku
Dibawah terik gundah
Melewati terowongan sunyi yang sempit akan tawa,
Kuharap tetesan embun
Memecahkan langkahku
Menjadi sejengkal perjuangan
Menuju suasana tawa
Yang telah sukar dalam hidupku,
Sebuah mimpi yang telah lama membatu
Hanya membentangkan separuh sayapnya
Untuk menghampiri kau penyejuk jiwa,
Entah harus bagaimana menggayuh asa
Yang hampir mati
Sedangkan cinta masih berkilau penantian,
Ingin rasanya kuhancurkan dinding kekar
Yang membentang dihadapankudalam sisa nafasku
Untuk menggapai penyejuk jiwa
Yang terdiam dalam istana.



Sang penawar sepi
Ketika malam tetap tegar
Dengan warna hitamnya
Sedang rembulan tetap tegar dalam peraduannya
Membuat sunyi merasuk dalam kesendirianku,
Kulafaikan bendungan rindu
Pada saputangan yang kugenggam
Yang telah lembab akan tangis mengenangmu,
Kuharap bayangmu menjadi penawar sunyi
Dalam kebingungan
Menempuh waktu penuh tangisan
Namun belum terasa sempurna
sebab bayangmu hadir dengan kebisuan,
apalah daya jiwa hanya merindu,,,,
sedang kehadiranmu adalah mimpi panjangku.

Begitu sempurna
Dalam beningnya airmata
Kulihat sukmamu sempurnakan sepiku
Angin yang terus berhembus terasa meronta
Penuh sepi,,,,,,
Hingga ia tiup rumpun-rumpun ilalang
Meramaikan suasana malam,
Terasa aku merdeka
Mengutarakan risauku padanya
Melinangkan airmata lara dengan suara do’a,
Begitu sempurna kuratapi nafasku
Dalam kesendirian
Menghitung kertas suci dan hitam
Yang kutempuh penuh kegamangan,
Ingin rasanya aku kembali pada masalalu
Yang hanya mengenal namaku
Melihat langkah yang telah berlalu
penuh dengan sejuta warna
hingga mataku terasa buta
akan cahaya suci dari ilahi.


Menghias hati
Cinta menjelma bak rembulan merasuk sukma
Bersila kekal terhempas duka
memanggi-manggil kerinduan
Pada jiwa yang telah riang,
Kutepis dengan harapan
Hari esok kan tiba untuk menawar rindu
Walau sebenarnya mimpi,
Cinta,,,,,,
Cukup kau hias hati ini
Dengan gemerlip rianya
Sedang kebersamaan itu adalah mimpi
Dalam kesadaranku,
Cinta,,,,,,,,,,,,,
Mengapa kau gaduhkan batinku
Dalam kekaguman sedang ia telah temui
Jalan hidupnya,
Cinta cukkup kau hias hatiku
Walau sebenarnya asmara telah terpasung
Dalam hamparan sebab mimpi telah terguling
Pada sebuah kematian.

Jiwa yang malang
Semi baru dirasa menjadi kemarau
Membuat kuncup kian melayu,
Daun-daun gugur masa remaja
Melepas perjalanan dalam masa perjuangan,
Geti jiwa melanjutkan langkah
Dalam kematian semi
Melihat jiwa kering keronta
Tinggal cinta yang tegar,
Betapa jiwa haus akan kebeningan cinta suci,
Saat ratusan hari
Sungguh jiwa yang malang
Yang hanya mampu menghamparkan tangannya
Embunpun tak gugur pada buana jiwa
Hingga airmata terasa menemukan lembahnya
Untuk mengalir,
Meminta kepiluan redam
Saat hari demi hari ia lewati
Bersama lara yang menjadi sukma.


Berlinang airmata
Berlinang air mata mengenang sejarah yang telah silam
Saat mengikat janji kebersamaan
Dengan benang asmara.
Dunia terasa tersenyum
Saat ia lihat jiwa berlinang airmata
Akan keagungan cinta yang haru akan suara.
Hari ini kebersamaan itu telah terhenti
Tinggal airmata yang rerus berlinang
Mengenang kebersamaan yang telah buram,
Bayangmu takpernah mengelah dari hadapku
Mencipta pelangi dibola mataku yang penuh airmata
Walau kebersamaan itu telah semu
Tinggal jejak-jejak perjuangan.

Sepanjang perjalan
Begitu luas cakrawala terbentang
Tegar dengan masa tuanya
Seiring dengan perjalanan waktu.
Membuat langkah membara untuk lari
Dengan sejuta perjuangan mencari keabadian,
Sedih, perih, pilu dan duka
Bagaikan senyum yang menyambutku saat pagi,
Berlapis-lapis tirai menutupi
Namun kuhancurkan untuk mendapatkan cinta sejati,
Walau darah mengalir menyaksikan perjuangan
Sepanjang perjalanan,,,,
Takpernah aku senyap dalam terang dan petang
Melihat juang berujung kematian,
Namun aku rela,,,,,,,,,,,
Sebab kematian merupakan bagian dari pengurbanan
Bagi jiwaku yang mendambakanmu.


Bagaikan bulan sabit
Setiap jejak jiwa yang tertapak
Pada celoteh langkahnya menaburkan duri-duri permusuhan
Mengibarkan bendera-bendera kematian,
Angkuh jiwa terasa dirasa
Ketika keberanian membungbung tinggi
Walau sebenarnya takut jiwa kerap ada,
Celurit tajam siap mengupas
Bagaikan bulan sabit
Siap mengupas jiwa dalam gelapnya langkah
Namun gelora jiwa terasa menutupi mataku,
Riang melebur dalam keberanian
Takhiraukan tajamnya pedang bak kilat menyambar,
Tulus hati akan kematian
Demi cinta yang telah bersemayam
Membias hati yang telah sunyi,
Rela detak jantung kini terhenti
Mempertahankan ketulusan walau harus ternoda dengan duka,

Menjelang pestamu
Bagaikan jiwa terbang diatas lautan api
Mengepakkan sayap pilu
Pada kejamnya waktu,
Rahang terasa memuntahkan nanah
Ketika hati kembengkak hancur,
Detak jantung terasa terhenti
Airmatapun berubah seketika
Menjadi darah yang menghayutkan tumpukan riang,
Irama merdu bak serigala mengaung memecah hening
Melarikan separuh sukma dari jasatku
Membuat aku terbaring takberdaya,
Hancur hati tanpa puing-puing
Melapukkan abjat-abjat kerinduan
Hilang entah kemana,
Hingga airmata dan jeritan jiwa yang melolong dari kejauhan
Menhantarkanmu pada peraduan riang
Sedang jiwaku tersungkuh pada tunas-tunas kepiluan
Meredupkan wajah dalam tangisan,
Sungguh cakrawala kini menagis
Dan mentaripun kini meredup berbaur suara petir menggelegar
Ikut berduka akan laraku, namun kau taksadari itu.
Sepanjang malam
Gaduh jiwa berdetak tangis
Pada raga yang rindu
Mendengarkan saer cinta yang angin bawa merasuk raga,
Aku termenung dibawah gemerlip bintang
Membendung sejuta harapan yang telah senja dalam genggaman,
Saat sekian lama aku selipkan pada perjalanan waktu
Namun belum jua terpadu,
Sepanjang malam kuterdiam sepi
Tanpa siul hatimu
Hanya mendengarkan suara daun bagaikan tawa,
Wahai malam,,,,,,,,
Takpernah kubuang sejuknya suasanamu
Dalam kesendirianku yang telah lama membaur padamu,
Oh tuhan,,,,,,,
Takpernah kuragukan keagunganmu
Namun mengapa ?
Kau jadikan malam sebagai temanku.
Terbenamnya separuh asa
Ketika waktu menampakkan gaduhnya
Pada siang dan malam
Yang selalu berjalan
Mengiringi langkahku
Ciptakan renung menuang mimpi yang tertelan pagi,
Harapanpun terkikis peradaban
Tinggal perjuangan yang telah lesu menanti ria,
Terbenamnya separuh asa
Saat hasrat mengapung pada duka tanpa haru
Melahirkan kenangan yang takmampu kukenang,
Kubenahi resah jiwaku
Menatap senyum madumu dalam keraguan
Mengartikan cinta dan jiwamu yang selalu lari
Sedang ragaku selalu merindu
Namun terhalang pedang melintang
Membuat raga tanpa juang mengejar mentari yang telah senja.

Penuh derita
Waktu telah menjatuhkanku
Pada lekung kehidupan,
Hilangkan sorot mata menatap megahnya dunia
Terusik jiwa dengan sunyi
Sukar riang dalam kesendirian
Bibirpun terasa kaku bersuara
Hanya diam seolah bisu,
Takmampu menyambutmu,,,,!
Perih sedih membelenggu kalbu
Menuangkan airmata pada
Pada sayap-sayap langkah
Bagaikan rintik yang takreda,
Akupun begitu kaku berpijak
Mengemban cinta yang renta akan ria,
Oh tuhan,,,,,,,
Separuh perjalananku kau penuhi derita
Membuat aku enggan menggayuh separuh kehidupan  yang berada diujung tombak 
Akan perjalanankn yang suram akan ridomu
Sebab terbelenggu rindu yang kelabu.

Taksempat lambaikan tangan
Ketika cinta mulai senja
Pada kegiranganmu hari itu
Saat aku jauh disana bersama duka,
Lalulalang bayangmu begitu menyiksa
Menguras airmata
Membuat aku taksempat lambaikan tanggan akan kepergianmu
Walau sebenarnya kau taknampak jelas dimataku,
Sebuah angan kini terbang
Mengitari istanamu yang penuh senyum
Beerpesta pora akan persandinganmu dengannya,
Tiada yang berduka akan laraku
Selain cakrawala yang ikut menangis
Dengan suara halilintarnya seolah membelah dunia ikut berduka akan kematian harapku,
Anginpun diam tanpa hembus dalam malam yang kunanti sejuknya ,
Layaknya kau nikmati malam pertama,


Tangis kehilangan
Terdengar siul merdu dipencil belantara
Disela widuri yang tegar,
Memecah perjuangan menjadi berkas kenangan,
Akupun tertunduk menangis” pucat”
Mendengarkan melodi cintaku gaduh bersama cemburu,
Hiruk pikuk hatiku
Mengundang isak tangis kehilangan
Akan eloknya sang rembulan
Dalam tenun asmara ,
Takkuasa aku berhenti berlinang airmata
Ketika bingkai jiwa lepas dari harapku,
Tangis kehilangan ,,,,,,
Takpernah berhenti membuntuti langkahku,
Sedang jiwa bagai musafir yang renta
Dalam perjalanan
Yang hanya bisa mengangkat tangannya meminta kemerdekaan jiwa.

Laksana mimpi
Selayang pandang kisah berjalan
Melintasi ketakutan akan lintangan pedang ,
Walau berlahan kurasuki jiwanya
Menahan suara dalam lelapnya cerita cinta,
Kukira keabadian menyelubungi asmaraku
Namun laksana mimpi asmara cintaku,
Kuikatkan kesetiaan pada keagungan cinta namun ia rapuhkan,
Kuemban kepercayaan namun ia gugurkan,
Begitu sulit kuartikan cinta
Yang hanya sesaat berlabuh dalam jiwa,
Menancapkan kesetiaan
Setelah itu ia pergi tanpa pesan,
Hanya meninggalkan airmata pada kenangan  yang ia tinggalkan
Sebagai teman dalam kesendirian.


Rindu kemerdekaan
Selaksa duka belum jua rapuh
Akan peradaban yang telah kental dalam perjalanan,
Berlaga dengan sisa nafasku
Menjadi lakon airmata.
Betapa kurindu kemerdekaan
Ketika hari demi hari, bulan demi bulan lara, resah dan pilu menjajah hidupku.
Sungguh aku rindu kemerdekaan
Bagaikan haus dalam kekeringan, dan bagaikan gersang merindukan hujan.
Harus berapa lama,,,,,,,,,,,?
Kunanti kemerdekaan dalam hidup yang ada diantara sayap kematian,
Oh kemerdekaan ,,,,,,,,,,,,,,
Wajah telah kusut
Airmata bagaikan hujan
Yang bertasbih mengharapkanmu
Dengan kicawan do’a yang menembus dinding kelabu
Namun belum jua mampu menepis penjajah dalam hidupku 
Yang telah lemah gemulai.

Kehilangan sayap
Kuitari mawar dan kuembuni
Dibawah naungan jiwa tumbuh tangkai cinta
Ditepi perjuangan,
Begitu ambisi kutancapkan kesetiaan
Sedangkan asa bagaikan abu terbang
Mengitari cakrawala,
Munajat cinta laksana gemuruh ombak
Menghempas karang pada sang robbi pencipta takdirku,
Jiwa melebur sukma
Namun raga bak air dan api yang takpernah menyatu,
Sejenak aku terpaku berhening,,,,
Kemana harus kugayuh rasa yang takbertepi
Sedang perjalanan telah begitu melelahkan
Namun hingga detik ini belumjua kutemui ujung perjalanan,
Ketah kehilangan sayap aku terbang
Hingga tiada kutemui pelabuhan riang
Membuat aku berada dalam keraguan panjang.

Terjerat sumpah
Takselintas keraguan menjamu akan sumpahku
Dalam mimpi panjang mengharapkanmu
Walau kau gugurkan hasratku
Bagai embun tersengat mentari
Takkan pernah kulupakan sumpah yang kuucap
Dalam sendu biang lala jiwa walau telah semu,
Telah kuikat sumpah pada tenun asmara
Yang telah lama kubuntuti
Dengan gerak perjuangan,
Wahai kupu-kupu,,,,,,,,,
Kutau kau telah hinggap disana
Namun warna sayapmu
Membuat aku takragu lagi berjanji akan abadi
Hingga kematian menghilangkan sukmamu
Dari ragaku walau janji belum lari.



Munajat bahagia
Kuanyam sepi merajut mimpi
Melepas jiwa terbang dibawah gemerlip bintang
Bersama duka,
Melintang resah merajut sukma
Dalam lembah yang kian beku tanpa senyum
Hanya mengalir airmata takbertujuan.
Tuhan,,,,,,,
Adakah sedikit embun yangkau cipta
Saat renta kini takberarti
Bersma nafas do’a yang tersisa dalam azapmu.
Tuhan,,,,,,,,
Sisakan sedikit laju angin untukku
Untuk menghempas jiwa yang terbeludak kesal
Oh tuhan,,,,,,,,,
Berikan aku sedikit senyuman
Untuk jiwa yang selalu tersiksa dalam bara
Agar langkah menyisakan kenang
Untuk bulan yang terbenam dalam restumu.

Takut jatuhcinta lagi
Jauh sudah bayangku dari rona wajahmu
Terbang bersama kerinduan yang taktau hinggap dimana,
Pada angin yangtak berujung Kuterbangkan saer-saer cinta
Pada kau penyejuk jiwa yang tiada aku kenal
Agar sesaat kau mengenang dalam sepintas pertemuan,
Oh lembayung senja,,,
Kau jadikan senyum berbaur haru
Ketika kuhanya sesaat bernaung
Kau hadirkan sukma begitu anggun
Membuat aku merana kembali
Takut jatuhcinta lagi,
Sungguh detak jantung kini takmenentu
Menatap dia yang terpaku melihatku
Membuat sulit kuartikan tentang apa yany kurasakan,
Tuhan ,.Luluh aku akan ciptamu yang terparas indah
Akan kuasamu dalam lihatku Yang kelabu akan airmata Tuhan tersiksa aku dalam asmara tanpa arti
Namu kau hadirkan lagi cinta dalam keraguan
Tanpa janji kebahagiaan hanya luka yang ia berikan.


Rindu kematian
Tuhan,,,,,
Embun pagi telah lenyap akan izinmu
Bersama duka yang kaucipta buat jiwa yang hina
Semilir angin begitu indah
Meniup debu mengiringi suara tangis dalam lembah hampa,
Tuhan buat siapa baangkai hatiku,,,,,,,,,???
Jika orang yang kudamba telah muntah melihatku
Melihat jiwaku yang berbaur hina penuh buka,
Tuhan aku rindu kematian
Saat eruh sudah takbermakna
Hanya bernafas dan berjasat namun tanpa jiwa
Hanya mengelana tanpa tujuan,
Tuhan mengapa kau tenggelamkan aku pada muara duka
Jika kau tiada biarkan aku bernafas ria,
Tuhan salahkah aku jika kematian kubuat sejengkal
Sebab luka yang bersemayam .



Disudut kehidupan
Wahai dewiku yang ria
Taksekalipun rona wajahmu hilang dari benakku
Walau tangis dan kecemburuan kerapkali menyiksa
Seolah menguras nafasku,
Memang aku rela nafas ini sirna bersama wajahmu
Tapi mengapa disetiap bait-bait do’a tiada tuhan dengar
Saat kematian telah menjadi  bagian mimpiku,
Dewi,,,,,,,,
Tuhan telah melupakanku disudut kehidupan
Hanya berharap sisa rahmat yang takbersisa
Membuat jiwa haus pada rona ria
Yang telah lama gulita akan duka.
Dewi,,,,,,,,,
Taukah engkau tentang hidupku
yang telah lama terselubung kesal
mencoba meraih hasrat bersama jutaan nada
namun jalan yang kulalui menjadi sehelai benang rapuh
yang membuat ragu dalam juang.

Hasrat yang selalu menggebu
Berlari dengan mendayung siul takbermakna
Mengiringi asa yang hampirmati
Tangkai-tangkai kini menangis
Ketika daun kini gugur meninggalkan ranting
Hadir sebuah rona namun gulita terasa
Saat hati tersayat-sayat hasrat yang semakin membungbung
Seiring dengan sisa nafas
Menodai langkah perjalanan Dibawah izin tuhan,
Menekukkan lutut menjamah buana
Menghalagi debu-debu jalanan
Yang hinggap pada kesetiaan,
Mengalir darah-darah sesal
Namun takkuasa kembali meninggalkan hasrat
Yang belum jua mati,
Sejuta penyesalan terasa mmenghimpit sukma
Namun kesadaran terasa mati terjerat dalam diri
Yang selalu dimunajatkan lewat saer-saer do’a,
Ya robbi,,,,,,,,,,
Mata telah rabun menatap ciptamu sedang ia telah ranggas
Namun mata ini takkuasa melihat
Hingga selalu memuja penuh kedukaan.
Kirim aku embun pagimu
Sejengkal waktu mengulur airmata
Menjadikan rintih takberujung
Hingga coretan-coretan pena takmengalir seutuh jiwa.
Sebuah renung kini menjelma mengalir bagaikan air
Mengikuti lembahnya
Meng hampiri lembah duka,
Ragu hembusan nafas kini mengelana
Menjadikan sukma taktau hinggap dimana
Yang tarselubung duka lara,
Matahari,,,,,,,,,,,
Kau telah buram dalam asaku
Menjadi sebatas mimpi
dalam harap yang selalu menjelma,
Tuhan,,,,,,
Kirimkan aku embun pagimu
Sebab nafas telah takberarti lagi dalam perubahan waktu ini,
Tuhan,,,,,,,,
Mengapa nafas kau hembuskan?
Mengapa raga kau hidupkan?
Mengapa gerak kau ciptakan?
Jika semua ini tiada berarti dalam jerat dukamu.
Mengeram dalam ketidak sadaran
Tak ada satu pagi yang meneduhkan raga
Walau terselubung embun yang begitu sejuk
Semilir angin yang begitu akrap berhembus
Telah menjadi topan yang membawa debu-debu jalan
Dan puing-puing kematian pada sukma.
Pupus hidup dalam kegagalan
Menyaerkan bait-bait asa mendengarkan nada-nada rindu memaksakan senyuman.
Bersama kejamnya hidup
Kubiarkan kaki tetap berpijak
Seiring dengan himpitan duka
Memuntahkan keputus asaan.
Bersama sebatang tongkat berpena
Akucoba mengartikan hidup
seiring dengan cucuran airmata
Yang takkuasa kubendung kembali.
Kutemukan sehelai kertas kusut bertulis takdir
Namun entah mengapa?
Hari selalu meronta akan kuasa robbi
Sebab begitu pahit dan mempilukan
Pada jiwa yang mengeram dalam ketidaksadaran.
Naungan jiwa yang ranggas
Pada ciptamu aku bernaung melepas jenuh
Mengisi kekosongan jiwa
Dengan menikmati megahnya dunia
Sejuk jiwa bak embun pagi
Meniti lorong waktu
Namun ketika ia ranggas
Pancaran duka menyengat kalbu,
Nafaspun sengau menanti kemerdekaan
Membuat rona wajah gersang senyuman
Tatapan mata hilang dalam beningnya airmata
Mengupas hasrat menjadi sejengkal mimpi
Yang selalu menjelma setiap waktu ,
Tuhan izinkan aku kembali padamu
Bersama saer-saer doaku
Dibawah naungn takdirmu,
Tuhan lama aku ingkari dirimu
Hingga aku rindu rahmatmu
Saat nafas tiada aku gantungkan pada tanganmu
Ketika gemuruh sesal penuh tangisan
Saat ia ditelan kemarau.

Tanpa cemara hati
Takbisa menulis lagi
Terasa penaku matidalam kerinduan
Tanpa cemara untuk aku bernaung
Menguraikan huruf-huruf cinta
Menyiram buana dengan airmata.
Lalu kemana aku harus pergi,,,,,,?
Sedang hari semakin sepi
Malampun semakin larut
Dan matahari telah lenyap dibalik awan kelabu.
Tuhan,,,,,,
Pahit takdir yangkau tata
Membuat langkah kini kaku menembus hasrat
Asa semakin membungbung
Dukapun jua menyongsong,
Dimana sandaran hatiku?
Aku rindu jiwa ini hanyut dalam kesejukan
Namun semu itu hanya mimpi
Wahai robbi,,,
Adakah takdir senyu dalam misteri tak terungkap?
Sebab aku ragu dalam hidup yang semakin menyepi ini
Ada sang mentari pagi.
Kekasihku yang gelap
Kau larut dalam beningnya airmata
Menodai nafasku
Menaburkan benih-benih harapan
Pada buana yang gersang
Akupun tenggelam dalam pesonamu
Kasih,,,,,,,!
Kucipta sebuah janji dan kuanyam bersama kesetiaan
Mengiringi langkahmu
Berharap diujung perjalanan menghapus mimpi kenangan,
Kasih,,,,,,
Kudayung dan terus kudayung asa yang sudah lesu
Menghimpun bintang untuk menjadi bulan
Namu tetap saja larut dalam kegelapan
Kasih,,,,,,
Airmata melebur bersama peluh
Menyaksikan perjuangan yang sudah mati
Namun cinta ini tetap dalam keberanian
Menjadikan lelah kini hilang tanpa kesan
Karna jiwaku telah bertimpuh
Akan anggunmu wahai pujaan.

Karang dalam cinta
Jauh aku tenggelam kedasar cinta
Terhimpit duka yang selalu menyiksa
Kesetiaan hanya menjadi berkas-berkas kenangan
Dalam perjalanan yang melelahkan.
Ingin rasanya aku ahiri
Namun nafas yang sudah sengau
Masih bergemuruh rindu dalam kalbu,
Wahai yang kupuja ,,,,,,
Aku larut dalam duka
Lupakan sejuta kenangan
Meredup dalam kepiluan panjang
Tanpa umbaran tawa,
Sungguh jiwa telah membenih gundah gulana
Remangkan langkah perjalanan
Menghampiri kedamayan diantara himpitan kepiluan
Yang tiada terhancurkan
Oleh taubatan nasuha
Ketika sadar mulai ada.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar