Madu senyummu
bagaikan terbitnya sang rembulan madu senyummu
dalam malam sunyi
membuat bait-bait cinta kini terpaku
memujamu,
kedipan mata terasa terganggu
ketika kulihat madu senyummu begitu
menawan
merayapkan kerinduan
pada kebisuan suasana malam ,
butir-butir harapan bak fajar
mengumbar binar terang di bukit2 jiwaku
yang gersang akan kedamayan,
mimpi-mimpipun kini terang berbinar
namun kucoba kubendung dalam lara duka
yang masih membekas dalam hatiku yang
hampa
tanpa keabadian cinta yang mendiami raga.
Bak rembulan
Gelap hati tersungkuh lara
pada nafas yang tak lagi lega,
redup sunyi rembulan terhimpit tangkai
mawar
meninggalkan waktu saat memuja.
Kau bak rembulan yang menyimpuhkan jiwa
Dengan sejuta pesona
Membantai semangat raga yang menapakkan
kaki
Pada keagungan waktu.
begitu berat hati menerima perjuangan
yang terhenti
bagaikan jasat kehilangan sang ibu
hingga ia hanya menjeriiiiit tercekam
ketakutan
melihat arah-arah perjuangan
takkuasa ia tempuh dalam kesendirian.
Aggunnya wajahmu
Meninggalkan sunyi dan duka
Terbenamnya wajahmu yang anggun
Pada senampan riang.
Menuturkan kerinduan pada celoteh jiwa
Bergelimpang lara,
Anggunnya wajahmu...........!!!
Merekak kenangan dalam kepergian tanpa
pesan,
Lewat kata atau tulisan
Namun jiwa tetap merindu
Dan angan takkuasa lupa walau janji ia
lepaskan.
Mengapa jiwaku................???
Memuja kecantikan yang terkepal
Dan takkan lepas akan kerisawan
Yang terikat kesetiaan.
Kau pelipur lara
Langkah terhenti dari kegersangan
Mendengar bait-bait asa dari jiwa yang
sunyi
Menancapkan tongkat harapan
Menembus jantung tanpa darah.
Riang yang tenggelam
Mulai mengapung mendayung senyumnya.
Jiwa yang terbaring lemah akan keraguan
Kini bangkit menyambut pagi, menyapa
nuansa baru.
Kehadiranmu......!!!
Pada bentangan jiwaku
Merubah kemarau menjadi semi,
Merubah sunyi menjadi canda tawa
Ketika kau jenguk jiwa denga senampan
cinta
Dalam juangmu.
Terbawa dalam mimpi
erbias
sunyi dalam kegamangan jiwa
menyukarkan
lelap malam,
suara-suara
merdu taklagi akrap kembali
menghibur
jiwa ketika pekat malam
kutempuh
dengan renung.
Kunanti
separuh malam membelai jiwa
Hingga
aku lelap di pangkuannya
Walau
kurasa hampa.
Betapa
pilunya hatiku
Ketika
aku terjaga dari tidur pulasku
Membawa
isak tangis tanpa sandaran
Sedang
masih terasa sesaat aku berbaring.
Mengapa,,,,,,,,,?
Kauhadir
dalam mimpi berselimut rindu,
Sedang
kebersamaan telah berhenti
Hanya
mampu kukenang dalam bentuk kesejatian.
Seindah pelangi
Dalam hamparan waktu yang terus berlaju
Dengan masa tuanya,
Cahaya mentari terasa reduk dalam amarah
cakrawala
Yang terus menangis dengan suara
petirnya,
Akupun tersipu kaku,,,,,,!
Meredup sedih mengadukan duka
Pada maha diatas maha segalanya,
Hingga dibalik ketakutan yang menjelma
Kulihat jiwa seindah pelangi
Membangunkan benih cinta yang layu
Dalam kehancuran kalbu.
Kuharap bukan hanya mata yang mampu
melihat
Namun separuh jiwa ragaku berdo’a
Agar ia jatuh dalam genggamanku yang
kosong.
Kau penyejuk jiwa
Sekian
lama kutelusuri jalan hidupku
Dibawah terik gundah
Melewati
terowongan sunyi yang sempit akan tawa,
Kuharap
tetesan embun
Memecahkan
langkahku
Menjadi
sejengkal perjuangan
Menuju
suasana tawa
Yang
telah sukar dalam hidupku,
Sebuah
mimpi yang telah lama membatu
Hanya
membentangkan separuh sayapnya
Untuk
menghampiri kau penyejuk jiwa,
Entah
harus bagaimana menggayuh asa
Yang
hampir mati
Sedangkan
cinta masih berkilau penantian,
Ingin
rasanya kuhancurkan dinding kekar
Yang
membentang dihadapankudalam sisa nafasku
Untuk
menggapai penyejuk jiwa
Yang
terdiam dalam istana.
Sang penawar sepi
Ketika malam tetap tegar
Dengan warna hitamnya
Sedang rembulan tetap tegar dalam
peraduannya
Membuat sunyi merasuk dalam
kesendirianku,
Kulafaikan bendungan rindu
Pada saputangan yang kugenggam
Yang telah lembab akan tangis
mengenangmu,
Kuharap bayangmu menjadi penawar sunyi
Dalam kebingungan
Menempuh waktu penuh tangisan
Namun belum terasa sempurna
sebab bayangmu hadir dengan kebisuan,
apalah daya jiwa hanya merindu,,,,
sedang kehadiranmu adalah mimpi
panjangku.
Begitu sempurna
Dalam
beningnya airmata
Kulihat
sukmamu sempurnakan sepiku
Angin
yang terus berhembus terasa meronta
Penuh
sepi,,,,,,
Hingga
ia tiup rumpun-rumpun ilalang
Meramaikan
suasana malam,
Terasa
aku merdeka
Mengutarakan
risauku padanya
Melinangkan
airmata lara dengan suara do’a,
Begitu
sempurna kuratapi nafasku
Dalam
kesendirian
Menghitung
kertas suci dan hitam
Yang
kutempuh penuh kegamangan,
Ingin
rasanya aku kembali pada masalalu
Yang
hanya mengenal namaku
Melihat
langkah yang telah berlalu
penuh
dengan sejuta warna
hingga
mataku terasa buta
akan
cahaya suci dari ilahi.
Menghias hati
Cinta
menjelma bak rembulan merasuk sukma
Bersila
kekal terhempas duka
memanggi-manggil
kerinduan
Pada
jiwa yang telah riang,
Kutepis
dengan harapan
Hari
esok kan tiba untuk menawar rindu
Walau
sebenarnya mimpi,
Cinta,,,,,,
Cukup
kau hias hati ini
Dengan
gemerlip rianya
Sedang
kebersamaan itu adalah mimpi
Dalam
kesadaranku,
Cinta,,,,,,,,,,,,,
Mengapa
kau gaduhkan batinku
Dalam
kekaguman sedang ia telah temui
Jalan
hidupnya,
Cinta
cukkup kau hias hatiku
Walau
sebenarnya asmara telah terpasung
Dalam
hamparan sebab mimpi telah terguling
Pada
sebuah kematian.
Jiwa yang malang
Semi
baru dirasa menjadi kemarau
Membuat
kuncup kian melayu,
Daun-daun
gugur masa remaja
Melepas
perjalanan dalam masa perjuangan,
Geti
jiwa melanjutkan langkah
Dalam
kematian semi
Melihat
jiwa kering keronta
Tinggal
cinta yang tegar,
Betapa
jiwa haus akan kebeningan cinta suci,
Saat
ratusan hari
Sungguh
jiwa yang malang
Yang
hanya mampu menghamparkan tangannya
Embunpun
tak gugur pada buana jiwa
Hingga
airmata terasa menemukan lembahnya
Untuk
mengalir,
Meminta
kepiluan redam
Saat
hari demi hari ia lewati
Bersama
lara yang menjadi sukma.
Berlinang airmata
Berlinang
air mata mengenang sejarah yang telah silam
Saat
mengikat janji kebersamaan
Dengan
benang asmara.
Dunia
terasa tersenyum
Saat
ia lihat jiwa berlinang airmata
Akan
keagungan cinta yang haru akan suara.
Hari
ini kebersamaan itu telah terhenti
Tinggal
airmata yang rerus berlinang
Mengenang
kebersamaan yang telah buram,
Bayangmu
takpernah mengelah dari hadapku
Mencipta
pelangi dibola mataku yang penuh airmata
Walau
kebersamaan itu telah semu
Tinggal
jejak-jejak perjuangan.
Sepanjang perjalan
Begitu
luas cakrawala terbentang
Tegar
dengan masa tuanya
Seiring
dengan perjalanan waktu.
Membuat
langkah membara untuk lari
Dengan
sejuta perjuangan mencari keabadian,
Sedih,
perih, pilu dan duka
Bagaikan
senyum yang menyambutku saat pagi,
Berlapis-lapis
tirai menutupi
Namun
kuhancurkan untuk mendapatkan cinta sejati,
Walau
darah mengalir menyaksikan perjuangan
Sepanjang
perjalanan,,,,
Takpernah
aku senyap dalam terang dan petang
Melihat
juang berujung kematian,
Namun
aku rela,,,,,,,,,,,
Sebab
kematian merupakan bagian dari pengurbanan
Bagi
jiwaku yang mendambakanmu.
Bagaikan bulan sabit
Setiap
jejak jiwa yang tertapak
Pada
celoteh langkahnya menaburkan duri-duri permusuhan
Mengibarkan
bendera-bendera kematian,
Angkuh
jiwa terasa dirasa
Ketika
keberanian membungbung tinggi
Walau
sebenarnya takut jiwa kerap ada,
Celurit
tajam siap mengupas
Bagaikan
bulan sabit
Siap
mengupas jiwa dalam gelapnya langkah
Namun
gelora jiwa terasa menutupi mataku,
Riang
melebur dalam keberanian
Takhiraukan
tajamnya pedang bak kilat menyambar,
Tulus
hati akan kematian
Demi
cinta yang telah bersemayam
Membias
hati yang telah sunyi,
Rela
detak jantung kini terhenti
Mempertahankan
ketulusan walau harus ternoda dengan duka,
Menjelang pestamu
Bagaikan
jiwa terbang diatas lautan api
Mengepakkan
sayap pilu
Pada
kejamnya waktu,
Rahang
terasa memuntahkan nanah
Ketika
hati kembengkak hancur,
Detak
jantung terasa terhenti
Airmatapun
berubah seketika
Menjadi
darah yang menghayutkan tumpukan riang,
Irama
merdu bak serigala mengaung memecah hening
Melarikan
separuh sukma dari jasatku
Membuat
aku terbaring takberdaya,
Hancur
hati tanpa puing-puing
Melapukkan
abjat-abjat kerinduan
Hilang
entah kemana,
Hingga
airmata dan jeritan jiwa yang melolong dari kejauhan
Menhantarkanmu
pada peraduan riang
Sedang
jiwaku tersungkuh pada tunas-tunas kepiluan
Meredupkan
wajah dalam tangisan,
Sungguh
cakrawala kini menagis
Dan
mentaripun kini meredup berbaur suara petir menggelegar
Ikut
berduka akan laraku, namun kau taksadari itu.
Sepanjang malam
Gaduh
jiwa berdetak tangis
Pada
raga yang rindu
Mendengarkan
saer cinta yang angin bawa merasuk raga,
Aku
termenung dibawah gemerlip bintang
Membendung
sejuta harapan yang telah senja dalam genggaman,
Saat
sekian lama aku selipkan pada perjalanan waktu
Namun
belum jua terpadu,
Sepanjang
malam kuterdiam sepi
Tanpa
siul hatimu
Hanya
mendengarkan suara daun bagaikan tawa,
Wahai
malam,,,,,,,,
Takpernah
kubuang sejuknya suasanamu
Dalam
kesendirianku yang telah lama membaur padamu,
Oh
tuhan,,,,,,,
Takpernah
kuragukan keagunganmu
Namun
mengapa ?
Kau
jadikan malam sebagai temanku.
Terbenamnya separuh asa
Ketika
waktu menampakkan gaduhnya
Pada
siang dan malam
Yang
selalu berjalan
Mengiringi
langkahku
Ciptakan
renung menuang mimpi yang tertelan pagi,
Harapanpun
terkikis peradaban
Tinggal
perjuangan yang telah lesu menanti ria,
Terbenamnya
separuh asa
Saat
hasrat mengapung pada duka tanpa haru
Melahirkan
kenangan yang takmampu kukenang,
Kubenahi
resah jiwaku
Menatap
senyum madumu dalam keraguan
Mengartikan
cinta dan jiwamu yang selalu lari
Sedang
ragaku selalu merindu
Namun
terhalang pedang melintang
Membuat
raga tanpa juang mengejar mentari yang telah senja.
Penuh derita
Waktu
telah menjatuhkanku
Pada
lekung kehidupan,
Hilangkan
sorot mata menatap megahnya dunia
Terusik
jiwa dengan sunyi
Sukar
riang dalam kesendirian
Bibirpun
terasa kaku bersuara
Hanya
diam seolah bisu,
Takmampu
menyambutmu,,,,!
Perih
sedih membelenggu kalbu
Menuangkan
airmata pada
Pada
sayap-sayap langkah
Bagaikan
rintik yang takreda,
Akupun
begitu kaku berpijak
Mengemban
cinta yang renta akan ria,
Oh
tuhan,,,,,,,
Separuh
perjalananku kau penuhi derita
Membuat
aku enggan menggayuh separuh kehidupan
yang berada diujung tombak
Akan
perjalanankn yang suram akan ridomu
Sebab
terbelenggu rindu yang kelabu.
Taksempat
lambaikan tangan
Ketika
cinta mulai senja
Pada
kegiranganmu hari itu
Saat
aku jauh disana bersama duka,
Lalulalang
bayangmu begitu menyiksa
Menguras
airmata
Membuat
aku taksempat lambaikan tanggan akan kepergianmu
Walau
sebenarnya kau taknampak jelas dimataku,
Sebuah
angan kini terbang
Mengitari
istanamu yang penuh senyum
Beerpesta
pora akan persandinganmu dengannya,
Tiada
yang berduka akan laraku
Selain
cakrawala yang ikut menangis
Dengan
suara halilintarnya seolah membelah dunia ikut berduka akan kematian harapku,
Anginpun
diam tanpa hembus dalam malam yang kunanti sejuknya ,
Layaknya
kau nikmati malam pertama,
Tangis kehilangan
Terdengar
siul merdu dipencil belantara
Disela
widuri yang tegar,
Memecah
perjuangan menjadi berkas kenangan,
Akupun
tertunduk menangis” pucat”
Mendengarkan
melodi cintaku gaduh bersama cemburu,
Hiruk
pikuk hatiku
Mengundang
isak tangis kehilangan
Akan
eloknya sang rembulan
Dalam
tenun asmara ,
Takkuasa
aku berhenti berlinang airmata
Ketika
bingkai jiwa lepas dari harapku,
Tangis
kehilangan ,,,,,,
Takpernah
berhenti membuntuti langkahku,
Sedang
jiwa bagai musafir yang renta
Dalam
perjalanan
Yang
hanya bisa mengangkat tangannya meminta kemerdekaan jiwa.
Laksana mimpi
Selayang
pandang kisah berjalan
Melintasi
ketakutan akan lintangan pedang ,
Walau
berlahan kurasuki jiwanya
Menahan
suara dalam lelapnya cerita cinta,
Kukira
keabadian menyelubungi asmaraku
Namun
laksana mimpi asmara cintaku,
Kuikatkan
kesetiaan pada keagungan cinta namun ia rapuhkan,
Kuemban
kepercayaan namun ia gugurkan,
Begitu
sulit kuartikan cinta
Yang
hanya sesaat berlabuh dalam jiwa,
Menancapkan
kesetiaan
Setelah
itu ia pergi tanpa pesan,
Hanya
meninggalkan airmata pada kenangan yang
ia tinggalkan
Sebagai
teman dalam kesendirian.
Rindu kemerdekaan
Selaksa
duka belum jua rapuh
Akan
peradaban yang telah kental dalam perjalanan,
Berlaga
dengan sisa nafasku
Menjadi
lakon airmata.
Betapa
kurindu kemerdekaan
Ketika
hari demi hari, bulan demi bulan lara, resah dan pilu menjajah hidupku.
Sungguh
aku rindu kemerdekaan
Bagaikan
haus dalam kekeringan, dan bagaikan gersang merindukan hujan.
Harus
berapa lama,,,,,,,,,,,?
Kunanti
kemerdekaan dalam hidup yang ada diantara sayap kematian,
Oh
kemerdekaan ,,,,,,,,,,,,,,
Wajah
telah kusut
Airmata
bagaikan hujan
Yang
bertasbih mengharapkanmu
Dengan
kicawan do’a yang menembus dinding kelabu
Namun
belum jua mampu menepis penjajah dalam hidupku
Yang
telah lemah gemulai.
Kehilangan sayap
Kuitari
mawar dan kuembuni
Dibawah
naungan jiwa tumbuh tangkai cinta
Ditepi
perjuangan,
Begitu
ambisi kutancapkan kesetiaan
Sedangkan
asa bagaikan abu terbang
Mengitari
cakrawala,
Munajat
cinta laksana gemuruh ombak
Menghempas
karang pada sang robbi pencipta takdirku,
Jiwa
melebur sukma
Namun
raga bak air dan api yang takpernah menyatu,
Sejenak
aku terpaku berhening,,,,
Kemana
harus kugayuh rasa yang takbertepi
Sedang
perjalanan telah begitu melelahkan
Namun
hingga detik ini belumjua kutemui ujung perjalanan,
Ketah
kehilangan sayap aku terbang
Hingga
tiada kutemui pelabuhan riang
Membuat
aku berada dalam keraguan panjang.
Terjerat sumpah
Takselintas
keraguan menjamu akan sumpahku
Dalam
mimpi panjang mengharapkanmu
Walau
kau gugurkan hasratku
Bagai
embun tersengat mentari
Takkan
pernah kulupakan sumpah yang kuucap
Dalam
sendu biang lala jiwa walau telah semu,
Telah
kuikat sumpah pada tenun asmara
Yang
telah lama kubuntuti
Dengan
gerak perjuangan,
Wahai
kupu-kupu,,,,,,,,,
Kutau
kau telah hinggap disana
Namun
warna sayapmu
Membuat
aku takragu lagi berjanji akan abadi
Hingga
kematian menghilangkan sukmamu
Dari
ragaku walau janji belum lari.
Munajat
bahagia
Kuanyam
sepi merajut mimpi
Melepas
jiwa terbang dibawah gemerlip bintang
Bersama
duka,
Melintang
resah merajut sukma
Dalam
lembah yang kian beku tanpa senyum
Hanya
mengalir airmata takbertujuan.
Tuhan,,,,,,,
Adakah
sedikit embun yangkau cipta
Saat
renta kini takberarti
Bersma
nafas do’a yang tersisa dalam azapmu.
Tuhan,,,,,,,,
Sisakan
sedikit laju angin untukku
Untuk
menghempas jiwa yang terbeludak kesal
Oh
tuhan,,,,,,,,,
Berikan
aku sedikit senyuman
Untuk
jiwa yang selalu tersiksa dalam bara
Agar
langkah menyisakan kenang
Untuk
bulan yang terbenam dalam restumu.
Takut
jatuhcinta lagi
Jauh
sudah bayangku dari rona wajahmu
Terbang
bersama kerinduan yang taktau hinggap dimana,
Pada
angin yangtak berujung Kuterbangkan saer-saer cinta
Pada
kau penyejuk jiwa yang tiada aku kenal
Agar
sesaat kau mengenang dalam sepintas pertemuan,
Oh
lembayung senja,,,
Kau
jadikan senyum berbaur haru
Ketika
kuhanya sesaat bernaung
Kau
hadirkan sukma begitu anggun
Membuat
aku merana kembali
Takut
jatuhcinta lagi,
Sungguh
detak jantung kini takmenentu
Menatap
dia yang terpaku melihatku
Membuat
sulit kuartikan tentang apa yany kurasakan,
Tuhan
,.Luluh aku akan ciptamu yang terparas indah
Akan
kuasamu dalam lihatku Yang kelabu akan airmata Tuhan tersiksa aku dalam asmara
tanpa arti
Namu
kau hadirkan lagi cinta dalam keraguan
Tanpa
janji kebahagiaan hanya luka yang ia berikan.
Rindu
kematian
Tuhan,,,,,
Embun
pagi telah lenyap akan izinmu
Bersama
duka yang kaucipta buat jiwa yang hina
Semilir
angin begitu indah
Meniup
debu mengiringi suara tangis dalam lembah hampa,
Tuhan
buat siapa baangkai hatiku,,,,,,,,,???
Jika
orang yang kudamba telah muntah melihatku
Melihat
jiwaku yang berbaur hina penuh buka,
Tuhan
aku rindu kematian
Saat
eruh sudah takbermakna
Hanya
bernafas dan berjasat namun tanpa jiwa
Hanya
mengelana tanpa tujuan,
Tuhan
mengapa kau tenggelamkan aku pada muara duka
Jika
kau tiada biarkan aku bernafas ria,
Tuhan
salahkah aku jika kematian kubuat sejengkal
Sebab
luka yang bersemayam .
Disudut
kehidupan
Wahai
dewiku yang ria
Taksekalipun
rona wajahmu hilang dari benakku
Walau
tangis dan kecemburuan kerapkali menyiksa
Seolah
menguras nafasku,
Memang
aku rela nafas ini sirna bersama wajahmu
Tapi
mengapa disetiap bait-bait do’a tiada tuhan dengar
Saat
kematian telah menjadi bagian mimpiku,
Dewi,,,,,,,,
Tuhan
telah melupakanku disudut kehidupan
Hanya
berharap sisa rahmat yang takbersisa
Membuat
jiwa haus pada rona ria
Yang
telah lama gulita akan duka.
Dewi,,,,,,,,,
Taukah
engkau tentang hidupku
yang
telah lama terselubung kesal
mencoba
meraih hasrat bersama jutaan nada
namun
jalan yang kulalui menjadi sehelai benang rapuh
yang
membuat ragu dalam juang.
Hasrat
yang selalu menggebu
Berlari
dengan mendayung siul takbermakna
Mengiringi
asa yang hampirmati
Tangkai-tangkai
kini menangis
Ketika
daun kini gugur meninggalkan ranting
Hadir
sebuah rona namun gulita terasa
Saat
hati tersayat-sayat hasrat yang semakin membungbung
Seiring
dengan sisa nafas
Menodai
langkah perjalanan Dibawah izin tuhan,
Menekukkan
lutut menjamah buana
Menghalagi
debu-debu jalanan
Yang
hinggap pada kesetiaan,
Mengalir
darah-darah sesal
Namun
takkuasa kembali meninggalkan hasrat
Yang
belum jua mati,
Sejuta
penyesalan terasa mmenghimpit sukma
Namun
kesadaran terasa mati terjerat dalam diri
Yang
selalu dimunajatkan lewat saer-saer do’a,
Ya
robbi,,,,,,,,,,
Mata
telah rabun menatap ciptamu sedang ia telah ranggas
Namun
mata ini takkuasa melihat
Hingga
selalu memuja penuh kedukaan.
Kirim aku embun
pagimu
Sejengkal
waktu mengulur airmata
Menjadikan
rintih takberujung
Hingga
coretan-coretan pena takmengalir seutuh jiwa.
Sebuah
renung kini menjelma mengalir bagaikan air
Mengikuti
lembahnya
Meng
hampiri lembah duka,
Ragu
hembusan nafas kini mengelana
Menjadikan
sukma taktau hinggap dimana
Yang
tarselubung duka lara,
Matahari,,,,,,,,,,,
Kau
telah buram dalam asaku
Menjadi
sebatas mimpi
dalam
harap yang selalu menjelma,
Tuhan,,,,,,
Kirimkan
aku embun pagimu
Sebab
nafas telah takberarti lagi dalam perubahan waktu ini,
Tuhan,,,,,,,,
Mengapa
nafas kau hembuskan?
Mengapa
raga kau hidupkan?
Mengapa
gerak kau ciptakan?
Jika
semua ini tiada berarti dalam jerat dukamu.
Mengeram dalam
ketidak sadaran
Tak
ada satu pagi yang meneduhkan raga
Walau
terselubung embun yang begitu sejuk
Semilir
angin yang begitu akrap berhembus
Telah
menjadi topan yang membawa debu-debu jalan
Dan
puing-puing kematian pada sukma.
Pupus
hidup dalam kegagalan
Menyaerkan
bait-bait asa mendengarkan nada-nada rindu memaksakan senyuman.
Bersama
kejamnya hidup
Kubiarkan
kaki tetap berpijak
Seiring
dengan himpitan duka
Memuntahkan
keputus asaan.
Bersama
sebatang tongkat berpena
Akucoba
mengartikan hidup
seiring
dengan cucuran airmata
Yang
takkuasa kubendung kembali.
Kutemukan
sehelai kertas kusut bertulis takdir
Namun
entah mengapa?
Hari
selalu meronta akan kuasa robbi
Sebab
begitu pahit dan mempilukan
Pada
jiwa yang mengeram dalam ketidaksadaran.
Naungan
jiwa yang ranggas
Pada
ciptamu aku bernaung melepas jenuh
Mengisi
kekosongan jiwa
Dengan
menikmati megahnya dunia
Sejuk
jiwa bak embun pagi
Meniti
lorong waktu
Namun
ketika ia ranggas
Pancaran
duka menyengat kalbu,
Nafaspun
sengau menanti kemerdekaan
Membuat
rona wajah gersang senyuman
Tatapan
mata hilang dalam beningnya airmata
Mengupas
hasrat menjadi sejengkal mimpi
Yang
selalu menjelma setiap waktu ,
Tuhan
izinkan aku kembali padamu
Bersama
saer-saer doaku
Dibawah
naungn takdirmu,
Tuhan
lama aku ingkari dirimu
Hingga
aku rindu rahmatmu
Saat
nafas tiada aku gantungkan pada tanganmu
Ketika
gemuruh sesal penuh tangisan
Saat
ia ditelan kemarau.
Tanpa cemara
hati
Takbisa
menulis lagi
Terasa
penaku matidalam kerinduan
Tanpa
cemara untuk aku bernaung
Menguraikan
huruf-huruf cinta
Menyiram
buana dengan airmata.
Lalu
kemana aku harus pergi,,,,,,?
Sedang
hari semakin sepi
Malampun
semakin larut
Dan
matahari telah lenyap dibalik awan kelabu.
Tuhan,,,,,,
Pahit
takdir yangkau tata
Membuat
langkah kini kaku menembus hasrat
Asa
semakin membungbung
Dukapun
jua menyongsong,
Dimana
sandaran hatiku?
Aku
rindu jiwa ini hanyut dalam kesejukan
Namun
semu itu hanya mimpi
Wahai
robbi,,,
Adakah
takdir senyu dalam misteri tak terungkap?
Sebab
aku ragu dalam hidup yang semakin menyepi ini
Ada
sang mentari pagi.
Kekasihku yang
gelap
Kau
larut dalam beningnya airmata
Menodai
nafasku
Menaburkan
benih-benih harapan
Pada
buana yang gersang
Akupun
tenggelam dalam pesonamu
Kasih,,,,,,,!
Kucipta
sebuah janji dan kuanyam bersama kesetiaan
Mengiringi
langkahmu
Berharap
diujung perjalanan menghapus mimpi kenangan,
Kasih,,,,,,
Kudayung
dan terus kudayung asa yang sudah lesu
Menghimpun
bintang untuk menjadi bulan
Namu
tetap saja larut dalam kegelapan
Kasih,,,,,,
Airmata
melebur bersama peluh
Menyaksikan
perjuangan yang sudah mati
Namun
cinta ini tetap dalam keberanian
Menjadikan
lelah kini hilang tanpa kesan
Karna
jiwaku telah bertimpuh
Akan
anggunmu wahai pujaan.
Karang dalam
cinta
Jauh
aku tenggelam kedasar cinta
Terhimpit
duka yang selalu menyiksa
Kesetiaan
hanya menjadi berkas-berkas kenangan
Dalam
perjalanan yang melelahkan.
Ingin
rasanya aku ahiri
Namun
nafas yang sudah sengau
Masih
bergemuruh rindu dalam kalbu,
Wahai
yang kupuja ,,,,,,
Aku
larut dalam duka
Lupakan
sejuta kenangan
Meredup
dalam kepiluan panjang
Tanpa
umbaran tawa,
Sungguh
jiwa telah membenih gundah gulana
Remangkan
langkah perjalanan
Menghampiri
kedamayan diantara himpitan kepiluan
Yang
tiada terhancurkan
Oleh
taubatan nasuha
Ketika
sadar mulai ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar